Sepanjang kurun beberapa dasawarsa yang lampau, para Maois telah meraih berbagai capaian penting melalui perjuangan idiologi serta praktik revolusioner. Sebelumnya, mereka menetapkan Marxisme-Leninisme- Maoisme [MLM] sebagai idiologi yang memimpin dan membimbing revolusi proletar dunia. Ini dapat dilihat dari dua aspek yang saling terkait. Dibanding dengan masa sebelum itu, kiprah yang kini dilancarkan berupa Perang Rakyat atau upaya aktip mempersiapkannya, merupakan tugas pokok sebuah partai Maois. Sebaliknya, polarisasi yang semakin menajam melanda secara luas di dalam gerakan Marxis-Leninis, muncul pada 1960-an, melibatkan kaum komunis murni berhadapan dengan berbagai arus oportunisme kanan. Oportunis kanan, tengah-isme dan dogmato-revisionism e semakin terdesak hingga menyibak hakekat mereka yang kontra revolusioner. Ruang untuk menyembunyikannya di bawah bendera Pikiran Mao Tse-tung pun terus menerus semakin menciut. Sebelum itu, arus kaum oportunis kanan mencoba memblokade penerimaan MLM dengan mengangkat soal Lin Piaoisme serta menciptakan kebingungan di seputar persoalan pada masa itu [1]. Ini pun gagal. Mereka yang telah mencobanya, kini dipaksa untuk menunjukkan warna sejati mereka dengan memisahkan diri dari MLM serta jalan revolusioner, bahkan dengan cara yang lebih mencolok mata [2]. Namun, para oportunis kanan belum juga menyerah. Beberapa kini balik menerima Maoisme tanpa memutuskan secara pasti dengan masa lampaunya. Bagi orang-orang seperti itu, MLM tidak lah lebih dari sekedar tempat nyaman untuk berlabuh, ketika pada saat ini milik mereka sendiri berada dalam keadaan compang-camping.
Adalah hukum revolusi bahwa, revisionisme serta berbagai arus asing lainnya akan menerima bentuk-bentuk baru dengan kemajuan perjuangan kelas masing-masing. Penerimaan MLM seperti itu oleh pihak oportunis, tidak lah mengejutkan. Namun, para Maois tentu memiliki tanggung-jawab untuk menghadapi taktik-taktik kaum oportunis ini. Sayangnya, pengertian keliru tetap saja bercokol di dalam jajaran Maois, dan ini menjadi penghalang dalam perjuangan melawannya. Hal itu juga memberi ruang gerak kaum oportunis kanan melancarkan taktik mereka. Apa saja kesalahan pengertian yang ada? Hal itu mencakup pemikiran bahwa, MLM dan Marxisme-Leninisme- Pikiran Mao Tse-tung adalah satu dan sama adanya. Pengubahan istilah dari Pikiran Mao Tse-tung menjadi MLM membutuhkan penjelasan yang lebih tepat dan ilmiah atas sumbangan-sumbangan Mao. Hal itu juga diperlukan untuk menarik garis batas yang lebih tajam dengan revisionisme moderen. Namun, bila kita gagal memberi kejelasan bahwa MLM dan Pikiran Mao Tse-tung tidak sama, maka penerimaan MLM semata-mata hanyalah soal perubahan istilah belaka. Ruang pun tersedia bagi arus baru oportunis kanan sebagai telah disebut di atas.
Apa sumber pemikiran salah ini? Sebagai isyu keseluruhan, ia muncul dari sebuah pandangan formalis. Sebagai telah dijelaskan dalam tulisan sebelumnya, “Adalah benar bahwa, pikiran formal untuk membandingkan Pikiran Mao Tse-tung dengan Maoisme tidak akan menguak hal baru. Tetapi, bukan semata-mata itu pokok soalnya. Kita harus waspada terhadap jebakan formalisme tersebut, yang dipertahankan oleh para penentang Maoisme. Pikiran Mao Tse-tung dan Maoisme bukan lah hal yang sama. Di sini, terdapat sesuatu yang baru. Sesuatu yang baru perihal arti-penting idiologi besar telah dicapai dengan menerima Maoisme. Kebaruan tersebut tidak terletak dalam kata-kata. Ia terletak dalam putusnya pautan dengan sebuah pengertian yang tidak lengkap serta kepingan dari keuniversalan sumbangan Mao secara keseluruhan. Selain itu, kebaruan termaksud merupakan lompatan ke suatu capaian kualitas idiologi kita yang lebih tinggi, lebih baik, serta lebih dalam. Sebagai terbukti, setiap pemikiran yang selalu mencanangkan tekanan tidak ada yang baru dengan istilah Maoisme, akan gagal mengerahkan Partai secara keseluruhan dan memimpinnya untuk melaksanakan pemutusan termaksud. Maka, tugas mengaktualkan potensi besar ini demi sebuah pembetulan idiologi secara sungguh-sungguh, demi mencapai pengertian yang lebih baik akan Marxisme-Leninisme- Maoisme, hanya akan dilakukan secara parsial. Bahkan lebih buruk, ia akan tergantung pada spontanitas.” [3]
Para pimpinan pendiri partai-partai baru yang Marxis-Leninis- Maois pada 1960-an itu telah menjadikan Pikiran Mao Tse-tung diterima sebagai tahap baru, tahap ke tiga dan lebih tinggi, yang diterima pula sebagai landasan pemisahan dengan revisionisme. Mereka telah mengeterapkan idiologi ini guna mendirikan garis revolusioner serta membimbing praktik. Semua partai Maois yang ada hari ini bermuara pada asal-usul lompatan seperti itu. Meski demikian, hal itu bukan sebuah garis lurus menerima MLM. Kita tidak perlu memperhitungkan secara rinci proses keseluruhannya. Cukup jelas kiranya bahwa, kemajuan ini telah dicapai melalui perjuangan melawan berbagai kecenderungan, yang telah bekerja demi sebuah pengertian kukuh atas kesemestaan sumbangan-sumbangan Mao Tse-tung. Itu merupakan sebuah perjuangan yang tetap akan dituntaskan.
Mari kita uji sebuah isyu khas, yakni teori Perang Rakyat. Bahkan ketika Pikiran Mao Tse-tung dijunjung tinggi, untuk suatu kurun waktu yang lama, kecenderungan yang dominan adalah melihatnya sebagai sesuatu yang khas, relevan dan dapat diterapkan sepenuhnya dalam negeri semi-feodal dan semi-jajahan. Bahkan hingga hari ini, ia berlanjut dalam bentuk bayang-bayang di kalangan partai-partai Maois. Namun, para pimpinan pendiri partai Marxis-Leninis baru pada 1960-an cukup jernih memandang kesemestaan Perang Rakyat. Tulisan Kawan Charu Mazumdar adalah sebuah contoh. Jadi, bagaimana kita dapat menjelaskan munculnya berbagai pandangan salah, yang membatasi Perang Rakyat pada bangsa-bangsa tertindas? Ini merupakan penyimpangan. Hal itu tidak pernah tertantang hingga PCP menggelar Maoisme sebagai tahap baru Marxisme-Leninisme serta kesemestaan Perang Rakyat.
Gerakan Internasionalis Revolusioner [GIR] serta para partai yang menjadi anggota, menerima bahwa, “Mao Tse-tung telah mengembangkan secara menyeluruh ilmu militer proletar melalui teori dan partik Perang Rakyat.” Dan bahwa, ini merupakan “…sesuatu yang dapat diterapkan secara semesta di seluruh negeri, meski ini harus diterapkan sesuai keadaan nyata sebuah negeri…” [4] Terbukti, hal itu menjadi isyu di mana “sebuah penyertian yang belum lengkap” dari tahap baru yang diperoleh lewat sumbangan-sumbangan Mao telah dibetulkan dengan diterimanya Maoisme. Namun, apakah ini semata-mata berupa pernyataan ulang dari apa yang telah dikatakan pada 1960-an? Tidak, ia mencerminkan sebuah pengertian yang lebih mendalam serta lebih penuh. Dan hal itu didasarkan, pada waktu itu, atas pelajaran-pelajaran dari pengalaman maju yang diperoleh melalui Perang Rakyat di Peru. Pada gilirannya dibimbing oleh pengertian maju sumbangan Mao, dan secara lebih khusus lagi, teori Perang Rakyat. Pengertian demikian telah diperkaya lebih jauh lagi, melalui Perang Rakyat di Nepal, khususnya dalam pengintegerasian taktik-taktik insureksi bersenjata, seperti intervensi politik di tingkkat pusat, dengan Perang Rakyat tahan lama. Kini, berbicara tentang penerimaan kesemestaan Perang Rakyat namun menolak mengakui serta tidak menarik pelajaran dari pengertian yang maju tersebut, tidak akan memberi arti. Dengan menerima Maoisme dan mengingkari sumbangan-sumbangan pengertian yang dibuat oleh Perang Rakyat merupakan sebuah pengertian yang tidak lengkap akan kesemestaan Maoisme.
Mengapa hal itu terjadi? Pada 1960-an, Kawan Charu Mazumdar menulis, “…kini, ketika kita telah memperoleh Pikiran cemerlang Ketua Mao Tse-tung, tahap tertinggi perkembangan Marxisme-Leninisme, untuk membimbing kita, adalah merupakan keharusan bagi kita untuk menilai kembali segala sesuatu dengan sudut pandang Pikiran Mao Tse-tung dan membangun sebuah jalan yang sama sekali baru yang lebih menekankan ke depan.” [5] Penerimaan Maoisme sebenarnya menyerukan semacam ‘penilaian dan pembangunan kembali’ itu. Ia menuntut pandangan segar atas keseluruhan persoalan idiologi serta perkembangannya secara umum, dan perihal sumbangan Mao Tse-tung secara khusus. Untuk mengerjakan ini secara berarti dan menyeluruh, ia harus dipautkan dengan penilaian menyeluruh terhadap garis dan praktik partai. Dan, ia harus mempelajari pengalaman segar dan maju dari proletar internasional. Bagi beberapa partai, ia akan merupakan persoalan pelaksanaan pemutusan mutlak dengan penyimpangan- penyimpangan dasar serta meraih kembali jalan revolusioner. Bagi yang lain, yang telah berpraktik revolusioner, ia akan menghadapi soal pembetulan berbagai pokok-soal khas. Yang lazim adalah tugas pembetulan idiologi-politik. Ini merupakan inti soal dalam ‘menilai dan membangun sesuatu yang baru’. Adalah salah ketika menyatakan bahwa, Maoisme dan Pikiran Mao Tse-tung adalah sama dan isyunya pun disempitkan menjadi soal pengungkapan yang lebih baik.
Penerimaan Pikiran Mao Tse-tung pada 1960-an merupakan soal pemutusan dengan revisionisme dan pembangunan kembali sebuah partai baru berdasar pondasi segar. Ketika hal itu telah dilakukan, ketika pemutusan dengan revisionisme telah dimantapkan lebih jauh serta dipertajam melalui perjuangan bersenjata revolusioner selama berpuluh-puluh tahun, akan kah penerimaan Maoisme kembali menyerukan pembetulan idiologi-politik? Pengalaman gerakan komunis internasional, termasuk India memberi jawaban yang jelas akan hal itu. Ketekunan menempuh jalan Perang Rakyat pasti memberi dasar kuat untuk mengenali dan membetulkan kesalahan-kesalahan . Namun, apakah pembetulan demikian tidak menyentuh akarnya secara menyeluruh, atau apakah ia terbatas pada pembetulan berbagai kedudukan tertentu, tidak lah dijamin hanya oleh perjuangan bersenjata secara revolusioner. Ia tidak dapat diperiksa dan diuji melalui praktik langsung semata, karena hasil dari perbedaan pendekatan seperti ini akan terungkap hanya dalam jangka waktu panjang. Secara prinsipal, ini merupakan soal kekukuhan dan keuletan dalam perjuangan idiologi. Ia merupakan soal penggemblengan partai dan massa dalam kekukuhan akan ajaran Maois masa kini, serta demi revolusi tahan lama sepenuhnya hingga komunisme.
Terlebih lagi, bahkan bila penerimaan Maoisme hanyalah dilihat sebagai ungkapan lebih baik untuk menajamkan garis pemisah dengan revisionisme, bukankah ini juga menyerukan untuk pembetulan idiologi-politik? “Bergulat sendiri, tanggalkan revisionis” adalah sebuah seruan penting Revolusi Besar Kebudayaan Proletar. Revisionisme Moderen dalam keluasan gerakan Marxis-Leninis mencoba untuk menyebarkan racun melalui penyajian pandangan yang menceng atau tidak utuh terhadap ajaran Mao Tse-tung. Untuk menanggalkan serta menghancurkan ini, kaum Maois harus mempertajam pengertian idiologi mereka sendiri, khususnya pengertaian mereka perihal keuniversalan Maoisme. Kedua tugas tersebut saling berpautan, tidak terpisah. Bila penajaman idiologi kita sendiri berupa pembetulan, tetap dikesampingkan dengan dalih bahwa, kita sudah sejak lama menjadi Maois, maka pergulatan melawan revisionisme moderen pun akan melemah. Mengutip dari sebuah dokumen PCP, “… adalah penting dan mendesak untuk menganalisis Maoisme lagi, dengan sasaran untuk mencari batasan akan isi dan arti secara lebih banyak dan lebih baik, dibimbing oleh penilaian bahwa, untuk mengangkat, mempertahankan serta menerapkan Maoisme adalah hakekat perjuangan antara Marxisme dan revisionisme pada saat ini.” [6]
Sebelumnya kita telah menyebutkan bahwa, memperoleh penglihatan segar atas idiologi kita juga melibatkan pembelajaran atas pengalaman-pengalam an proletar internasional yang segar dan maju. Bagaimana kita menilai apakah sesuatu itu maju atau tidak? Pengujian dalam praktik tidak diragukan merupakan sebuah kriterium. Meski demikian, pengertian ini sempat menjadi pokok-soal penting dalam pergulatan atas pertanyaan, apakah pengalaman Perang Rakyat di Nepal dan Peru mewakili suatu pemahaman maju. Menilainya semata-mata menurut pengertian kemajuan atau kemunduran segera, ataupun tingkat perjuangan bersenjata serta derajat penindasan, merupakan penerapan keliru perihal kriterium praktik. Akan halnya dengan mengurangi arti pelajaran negeri kecil, negara lemah dan sebagainya, juga merupakan kesalahan. Dalam dua pandangan ini, kelalaian idiologi tampak mencolok. Maka, kriterium praktik pun dipersempit menjadi empirisisme. Dialektika kesemestaan serta kekhususan pun dipatahkan. Pelajaran penting demi perjuangan menegakkan MLM berupa pemahaman yang lebih dalam terhadap pengamatan Mao bahwa, dalam perkembangan idiologi proletar, “Dasarnya adalah ilmu sosial, perjuangan kelas “. [7] Didukung dengan pengalaman kaya akan perjuangan kelas revolusioner, idiologi pun dapat berkembang. Pemahaman baru, lebih mendalam dan maju atas teori-teori yang ada, dengan begitu dapat bermunculan. Pemikiran-pemikiran baru pun dapat dikembangkan. Apakah benar menjadi demikian, harus lah dinilai secara prinsipal atas dasar MLM. Tak diragukan, pelajaran revolusi tertentu tidak dapat dengan sendirinya, secara mekanik, diterapkan di tempat lain. Namun, adalah benar perihal MLM itu sendiri. Bila berbagai pelajaran revolusi tertentu berlaku untuk menguji MLM, bila mereka menunjukkan cara baru akan pengetahuan serta tindakan, maka berbagai pelajaran tersebut perlu dijunjung serta diterapkan. Dan itu merupakan pengujian penerimaan partai terhadap MLM.
Apa yang hilang ketika memalingkan diri dari kesadaran bergulat dengan pemahaman maju ini? Sebagai contoh khas: beberapa tahun silam, CC PKI [M] Janasakthi yang tetap utuh itu, telah membuat dokumen ulasan. Dokumen tersebut mengidentifikasi alasan kemunduran yang mereka alami sebagai kegagalan menempuh taktik kontra-ofensip. Pelajaran yang dapat kita peroleh adalah kenyataan bahwa, ‘pembetulan’ dapat diajukan tanpa kegairahan apa pun dari ‘teori fase’ [8] PK garis Reddy (sebuah variasi Nagi garis Reddy). Sebenarnya, keseluruhan dokumen itu sendiri merupakan usaha berbentuk eklektik, untuk mengkombinasi dua hal menjadi satu – oportunisme kanan PK Reddy dengan Charu Mazumdar. Namun, mengapa itu mengandung pelajaran? Kecenderungan utama dalam kritik Maois perihal ‘teori fase’ tersebut selalu menyasar pada kegagalan Janasakthi menempuh perjuangan bersenjata melawan negara. Ini juga terproyeksi sebagai pokok inti soal ‘teori fase’. Ia bertolak-belakang dengan pertumbuhan gerakan revolusioner pimpinan kaum Maois yang tetap melakukan perjuangan bersenjata serta mengangkatnya ke tingkat Perang Rakyat melawan negara. Perbandingan demikian dibuat dalam konteks pengalaman di India, pasti akan berguna untuk menyingkap teori anti-Maois tersebut. Namun, tekanan tunggal atas bentuk manifestasi ‘teori fase’ tersebut juga merupakan gangguan bagi pemeriksaan lebih lanjut serta usaha memerinci sesuatu secara tepat atas penolakannya akan dinamika perang, yang merupakan hakekat kenyataan itu. Ia memperlemah kritik melawan ‘teori fase’. Ia membiarkan adanya ruang untuk bermanufer seperti apa yang dilakukan oleh pimpinan Janasakthi ketika mengabaikan usaha pembetulan. Alasan yang mengemuka adalah kegagalan menguji keseluruhan isyu dari tempat yang menguntungkan terhadap pandangan baru, pemahaman maju serta berbagai pengalaman Perang Rakyat, untuk tidak hanya dibatasi hanya pengalaman di India. Dari contoh khusus Janasakthi itu, sekelompok kawan dengan berkesungguhan mencoba meninjau masa lalu mereka, justeru dari tempat menguntungkan ini, berhasil mencapai kegairahan, dan tidak seperti bagian-bagian lain yang masih saja menggelepar dalam genangan lumpur kekacauan Nagi Reddy. Hal itu membawa kawan-kawan tersebut mencapai kedudukan yang kukuh ketika mengkoreksi pandangan Maoisme, yang pada hakekatnya lebih dari sekedar menerimanya. Pada gilirannya ini merupakan persoalan kunci dalam usaha menyatukan para Maois di India ke dalam sebuah partai tunggal, ke dalam sebuah partai berdasar MLM dan bersatu dengan GIR. Hari ini, ketika oportunisme kanan berbicara manis kepada MLM untuk membonceng proses penyatuan yang sedang berlangsung di kalangan Maois sejati, maka perkembangan tersebut memiliki arti penting yang besar. Lagi-lagi hal itu menekankan arti penting dari pendalaman pemahaman kita akan MLM, khususnya Maoisme, dan berjuang melawan berbagai pandangan yang mengaburkan penglihatan terhadap lompatan yang dicapai melalui penerimaan Marxisme-Leninisme- Maoisme sebagai pengganti Marxisme-Leninisme- Pikiran Mao Tse-tung.
———— ——— —-
*) Sumbangan oleh PKI (ML) Naxalbari, dalam The Worker. Organ of the Communist Party of Nepal [Maoist], No. 10 (Mei 2006), halaman 103-106.
[1] Lihat: ‘The Fight to Establish Marxism-Leninism- Maoism’ dalam NAXALBARI, No:2.
[2] Di India, PKI (ML) Bendera Merah merupakan contoh yang jitu. Dalam perpecahan terakhir, sebuah tuduhan diangkat oleh suatu faksi berupa isyu di seputar ‘penyimpangan’ dari kedudukan umum mereka, berupa perjuangan dua gris. Ini berlangsung ketika terjadi
pembersihan kedudukan para Maois!
[3] ‘The Fight to Establish Marxism-Leninism- Maoism’, NAXALBARI, No.2
[4] ‘Long Live Marxism-Leninism- Maoism’, Edisi 1998, halaman 59.
[5] ‘Party’s Call to Students and Youth’, dari The Historic Turning Point, Vol.2, halaman 36, garis miring ditambah.
[6] ‘Maoism. On Marxism-Leninism- Maoism’, dari CPP and Mao Tsetung, 1987, tekanan ditambah.
[7] ‘Talk on Philosophy’.
[8] ‘Dahulukan perjuangan ekonomi, kemudian perlawanan besenjata untuk mempertahankan capaian ekonomi dan seterusnya perjuangan bersenjata untuk kekuasaan politik’. Ini adalah perspektip teori anti-Maois tersebut. Untuk kritik ‘teori fase’, lihat ‘Repudiation of the CRC, CPI (ML)’s Views on Military Line’, Spring Thunder, No. 1 (terbitan ulang) dalam A World to Win, No.26.
* * * *
“Diketahui bahwa, ketika anda mengerjakan sesuatu, anda tidak akan mengetahui hukum yang berlaku, ataupun bagaimana mengerjakannya, serta kesanggupan mengerjakannya dengan baik, terkecuali bila anda memahami keadaannya yang nyata, hakekatnya serta berbagai hubungannya dengan hal-hal lain,.” Mao Tse-tung, Masalah Strategi dalam Perang Revolusioner di Tiongkok.
