Gerakan Perlawanan Rakyat Se-Dunia [GPRD] Cabang Frankfurt telah mewawancarai Khimlal Devkot selama kunjungannya ke Eropa. Devkot adalah seorang anggota team dari Partai Komunis Nepal [Maois], PKN [M], yang sedang melakukan perundingan dengan pemerintah di Nepal. Di bawah adalah benahan transkripsi, tidak resmi, dari wawancara 19 Oktober tersebut.
GPRD Frankfurt [GPRD-Fr.]: Dapatkah anda memperkenalkan diri secara singkat kepada kami?
Khimlal Devkota [KD]: Saya Khimlal Devkota. Saya bekerja dalam gerakan perang rakyat dan kini saya menjadi bagian dari sekretariat perundingan untuk PKN [M]. Saya juga anggota komite pusat Dewan Persatuan Rakyat Revolusioner yang kini menjadi anggota komite yang merancang undang-undang dasar sementara.
GPRD-Fr.: Kini anda sedang berada di Eropa. Apa maksud dan tujuan pokok di sini? Sasaran apa yang ingin anda capai dengan kunjungan ini?
KD: Kami ingin membagi pengalaman kami ke sepenjuru dunia. Itu tujuan kami. Akhir-akhir ini, sebuah organisasi berbasis di Hamburg mengundang saya sebagai pihak yang mewakili PKN [M]. Mereka ingin mengetahui serta berbagi pengalaman sehubungan dengan masa depan Nepal. Saya telah mengunjungi Brusel dan saat ini berada di Jerman.
GPRD-Fr.: Bagaimana pengalaman anda dengan berbagai macam rakyat dan organisasi di Eropa?
KD: Saya bangga menyatakan bahwa saya sungguh senang bertemu teman-teman di Eropa. Mereka amat tertarik dengan perang rakyat Nepal, PKN [M] serta proses perdamaian yang sedang berlangsung di Nepal. Adalah sesuatu yang teramat menyenangkan dan merupakan kesempatan emas untuk dapat menyampaikan sesuatu kepada teman-teman.
GPRD-Fr.: Ceritakan kepada kami perihal 19 hari gerakan rakyat pada April tahun ini.
KD: Di balik 19 hari gerakan tersebut adalah sepuluh tahun perang rakyat. Tujuan pokok gerakan rakyat tersebut adalah untuk mendirikan sebuah republik di Nepal.
GPRD-Fr.: Menurut pendapat anda, apa aspek positip dan negatip dari gerakan rakyat selama 19 hari itu?
KD: Terdapat baik hal-hal positip maupun negatip dalam 19 hari gerakan rakyat tersebut. Saya akan menyampaikan aspek positip terlebih dahulu: Rakyat terbanyak berperan-serta dalam gerakan itu. Sebagian besar rakyat itu mengangkat suara melawan kerajaan, melawan feodalisme, melawan sistem negara kesatuan, dan mereka semua menginginkan sebuah republik, demokrasi, perubahan ke depan serta perdamaian. Mereka meminta Tentara Pembebasan Rakyat [TPR] agar mempersenjatai mereka untuk menyerang kerajaan, istana serta feodalisme.
Lalu, mari kita menengok aspek negatipnya. Selama 19 hari gerakan itu, para pimpinan aliansi ketujuh partai [partai politik anggota parlemen, yang menjadi pemerintahan berkat gerakan tersebut] seharusnya memimpin gerakan, tetapi hal itu tidak terjadi. Hanya beberapa pemimpin saja yang berada di dalam gerakan. Gerakan itu seharusnya dapat mengarah ke sebuah republik, namun, dikarenakan tidak adanya kepemimpinan, kesempatan emas untuk mendirikan sebuah republik dan mengenyahkan kerajaan selama-lamanya pun terlewatkan. Kini, kami mempertanyakan apakah aliansi ketujuh partai itu memiliki persetujuan rahasia dengan istana. Itu juga merupakan aspek yang paling negatip dari 19 hari gerakan.
GPRD-Fr.: Pada saat ini, bagaimana hubungan anatara aliansi tujuh partai dengan kerajaan?
KD: Pada waktu ini, beberapa dari partai-partai utama dari aliansi tujuh partai tersebut erat berhubungan dengan istana. Secara tidak langsung, mereka sedang memenuhi kepentingan istana dan menjadi alat yang digunakan oleh istana. Jadi, mereka amat tidak dipercayai oleh rakyat dan tidak dilirik lagi oleh gerakan rakyat tersebut.
GPRD-Fr.: Menurut anda, apa kesulitan dan hambatan bagi proses demokratik di Nepal?
KD: Terdapat banyak kesulitan. Pertama, adanya status-quo-isme; ke dua, feodalisme; ke tiga, kerajaan otokratik dan ke empat, ketidak-sediaan aliansi tujuh partai untuk menerima perubahan yang melihat ke depan. Kami mencurigai aliansi ketujuh partai tersebut telah memiliki berbagai persetujuan dengan istana. Ini merupakan rintangan utama bagi proses demokratik di Nepal.
GPRD-Fr.: Bagaimana keadaan penghidupan saat ini bagi kelas-kelas yang berbeda-beda di Nepal dan apa pandangan mereka?
KD: Keadaan penghidupan serta tingkat pemikiran di Nepal amat beragam. Terdapat orang kaya dan orang yang tak memiliki apa-apa. Segelintir orang memiliki peringkat kehidupan Eropa, namun sebagian terbesar lainnya hidup di bawah keadaan yang keras dan sengsara. Dalam keadaan pa-pa, mereka tidak memiliki pengobatan, tidak pula pendidikan serta pekerjaan. Hal ini berdampak pada tingkat pemikiran rakyat. Kaum kaya dibimbing oleh kebudayaan feodal. Mereka ingin menjaga status quo, beberapa menginginkan pemulihan [kerajaan sepenuhnya] masa lalu. Sebagian terbesar rakyat berada dalam keadaan revolusioner dan mendambakan perubahan dengan pandangan ke depan. Jadi, terdapat jurang yang menganga antara kaum kaya dan kaum miskin sehubungan dengan pemikiran ke belakang dan yang revolusioner.
GPRD-Fr.: Apa perbedaan agenda antara kekuatan demokratik, progresip, serta anti-kerajaan, termasuk kekuatan para Maois itu?
KD: Pertama, saya pikir bukan hanya menyangkut agenda berbagai kekuatan di atas, namun agenda bangsa, yakni untuk membelejeti negara kesatuan, feodalisme serta kerajaan otokratik untuk kemudian mendirikan sebuah federalisme republik. Ke dua, di Nepal terdapat banyak suku bangsa yang tertindas, terdapat ketidak-setaraan di bidang gender, kebudayaan dan penggunaan bahasa. Maka, seluruh kelas, gender dan suku-suku bangsa yang tertindas ini seharusnya diberdaya dan diberi hak untuk menentukan nasib sendiri. Ini merupakan agenda yang mendasar yang dapat mendemokratisasi bangsa dan memberdaya kelas, gender dan kelompok-kelompok tertindas. Secara konkrit, agenda-agenda yang ada bersifat berlawan terhadap kerajaan, terhadap sistem feodal kesatuan serta demi sebuah sistem demokratik secara penuh, sebuah sistem republik serta sistem federal.
GPRD-Fr.: Kekuatan mana yang melawan demokrasi, revolusi serta proses perdamaian?
KD: Terdapat berbagai kekuatan dalam dan luar. Di dalam negeri, istana dan tentara menentang demokrasi, melawan revolusi, perubahan dan melawan pula negara dan rakyat. Dari luar, sebagian terbesar kekuatan imperialis melawan perubahan, melawan Nepan dan melawan rakyat Nepal pula. Mereka juga sangat menentang demokrasi, perubahan berpandangan ke depan serta khususnya melawan proses perdamaian yang kini sedang berlangsung.
GPRD-Fr.: Dapatkah anda menyampaikan secara singkat peran yang mereka mainkan?
KD: Mereka selalu menciptakan hirarki terhadap proses perdamaian termaksud. Katakan lah aliansi ketujuh partai itu serta kaum Maois yang telah sepakat dan menandatangani persetujuan 12 pokok soal, persetujuan 8 pokok soal, ataupun persetujuan 5 pokok. Namun, mereka menciptakan berbagai rintangan untuk melaksanakan dan menterjemahkan berbagai persetujuan tersebut ke dalam praktik. Ketika para Maois bersama aliansi ketujuh partai menandatangani persetujuan 8 pokok soal, langsung pada hari berikutnya kekuatan imperialis, istana kerajaan serta Tentara Kerajaan menyiapkan sebuah konspirasi melawan pelaksanaan persetujuan 8 pokok soal tersebut. Tidak hanya ini, mereka juga menginginkan mengganggu proses perdamaian dengan memasok persenjataan, bahkan selama tahap proses perundingan tersebut sedang berlangsung.
GPRD-Fr.: Pada tahun mendatang, apa menurut anda yang terjadi di Nepal?
KD: Saya pikir proses perdamaian termaksud akan berjalan ke arah yang positip setelah undang-undang dasar sementara diumumkan, suatu badan hukum sementara akan ditegakkan, dan parlemen pun akan dibubarkan. Pemerintah sementara akan mengumumkan penyelengaraan pemilu bagi sebuah dewan konstituante. Diharapkan dalam kurun setahun sebuah undang-undang dasar baru akan dirancang oleh dewan konstituante tersebut dan proses perdamaian serta demokrasi pun akan dimantabkan.
GPRD-Fr.: Kalau tidak terjadi ke arah positip sebagaimana anda uraikan, apakah terdapat pilihan lain?
KD: Bila arah positip seperti itu ditunda, dalam waktu satu tahun sebagian terbesar rakyat pasti akan keluar menumpahi lagi jalanan untuk menentang dan berlawan yang tidak hanya 19 hari, namun bila diperlukan, 29, 39, atau bahkan 49 hari. Pada saat demikian, gerakan rakyat akan bangkit. Kekuatan rakyat dalam gerakan populer itu akan memaksa kekuatan regresip serta para pendukung status quo, untuk kembali ke meja perundingan serta menyelenggarakan pemilu untuk dewan konstituante, yakni mengawali kembali proses perdamaian serta membangun kembali negara.
GPRD-Fr.: Apakah anda berpikir bahwa rakyat siap turun ke jalan lagi, bila proses perdamaian berjalan ke arah negatip?
KD: Ya, pasti. Rakyat Nepal cinta damai, dan amat mendambakan perubahan dengan pandangan ke depan, kedamaian serta keadilan beserta demokrasi. Bila kekuatan status quo tidak menerjemahkan hal itu ke dalam praktik, sebagian terbesar rakyat akan keluar ke jalan-jalan dan menyerukan para Maois untuk memimpin gerakan tersebut. Saya yakin benar bahwa mereka pasti akan keluar ke jalan-jalan.
GPRD-Fr.: Mari kita sedikit alihkan pokok pembicaraan. Kami mendengar bahwa kawan Gaurav ditahan kembali. Apa artinya itu, menurut hemat anda?
DK: Bagai lumrah saja bagi kekuatan imperialis, para pendukung status quo serta kekuatan-kekuatan mereka yang tidak menginginkan keberhasilan bagi proses perdamaian di Nepal, yang tidak menyukai perubahan berpandangan ke depan serta mereka yang mematuhi perintah AS. Dewasa ini, campur tangan AS tidak hanya di Nepal, namun juga di India, dan itu merupakan kedudukan kecil sekali di pihak India, menurut pemikiran saya.
GPRD-Fr.: GPRD Eropa melancarkan berbagai macam kampanye untuk mendesak dibebaskannya kawan Gaurav, kawan Kiran dan para Maois Nepal lainnya yang sedang ditahan di India, Tiongkok dan lain-lain. Apakah anda di Nepal mendengar tentang kampanye tersebut? Kalau demikian, bagaimana anda memandang kampanye ini?
KD: Ya, pasti. Saya mendengar GPRD telah mengerjakan pekerjaan dengan baik dan efektip untuk membebaskan kawan Gaurav, kawan Kiran dan kawan-kawan lain yang sedang ditahan di India, namun hingga kini, mereka masih di penjara India. Saya pikir GPRP serta organisasi-organisa si serta lembaga-lembaga dan kelompok-kelompok lain harus melancarkan kampanye lain yang lebih efektip, yang dapat membebaskan seluruh kawan kami.
GPRD-Fr.: Kami telah mendengar bahwa berbagai ormas di Nepal seperti pemuda, mahasiswa, buruh dan perempuan, sedang mengorganisasi konggres masing-masing pada hari-hari ini. Dapatkah anda menyampaikan kepada kami apa maksud mereka dan apa yang sedang mereka siapkan?
KD: Pertama-tama, saya akan mengatakan bahwa hal itu merupakan pekerjaan rutin mereka untuk menyelenggarakan pertemuan. Mereka harus mengadakan konpernas, konvensi serta konggres. Itu merupakan tugas tetap semua ormas. Hal ke dua, bahwa mereka teramat marah dengan kekuatan represip dan status quo yang merintangi proses perdamaian dan tidak menyelenggarakan pemilu untuk dewan konstituante. Ke tiga, bahwa bila kekuatan regresip tidak siap mengadakan pemilu untuk dewan konstituante, ormas-ormas tersebut harus mengorganisasi kembali sebuah gerakan rakyat. Itu lah, mereka pun sedang mempersiapkannya. Juga, bila kenyataan obyektip menuntut jenis lain untuk berlawan ataupun ber-revolusi, mereka juga sedang mempersiapkannya untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
GPRD-Fr.: Apa yang anda harapkan dari rakyat di Eropa demi keberhasilan proses perdamaian, demokrasi, revolusi, penghentian kerajaan dan khususnya yang menguntungkan Nepal serta kemenangan rakyat Nepal?
KD: Pertama-tama, keberhasilan proses perdamaian di Nepal bukan hanya untuk rakyat Nepal. Ia akan menjadi simbol kemenangan bagi kekuatan progresip dunia. Maka, bagi rakyat di Eropa terdapat tugas pokok untuk memainkan peran penting demi keberhasilan proses perdamaian tersebut. Ke dua, rakyat progresip di Eropa dengan ide perubahan harus melancarkan kampanye yang lebih efektip lagi untuk menerjang semua rintangan yang diciptakan oleh kekuatan imperialis guna memukul proses perdamaian yang sedang berlangsung di Nepal. Ke tiga, saya ingin menghimbau rakyat di Eropa untuk mengambil inisiatip terbaik guna memantabkan keberhasilan proses perdamaian yang sedang berlangsung. - end item -
*) diindonesiakan oleh team d a t a I n f o c o m
Sumber: 6 Nopember 2006. A World to Win News Service [AWTW].
